Lebih dari 25.000 jiwa hingga saat ini belum diketahui nasibnya setelah adanya gempa bumi dan tsunami yang melanda timur laut Jepang pada 11 Maret lalu.
Badan Kepolisian Nasional negara Jepang melansir 9.523 orang telah dipastikan tewas. Data tersebut dikabarkan pihak kepolisian negara Jepang pada pukul 11.00WIB waktu setempat seperti dilansir dari NHK negara Jepang.
Bukan hanya mengabarkan tentang korban jiwa yang tewas, pihak kepolisian juga menyiarkan korban yang hingga kini masih dalam keadaan raib.
"Kami telah mendapatkan laporan 16.094 orang hilang," ujar jubir Kepolisian negara Jepang.
Dari data terebut, lebih banyak orang yang meninggal dunia dan hilang yang berasal dari tiga prefektur, yakni Miyagi, Fukushima, serta Iwate .
Data kepolisian negara Jepang menyebutkan, jumlah korban yang meninggal dunia dan hilang di Fukushima tersebut telah mencapai angka 776 orang. Jumlah tersebut sebenarnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah lebih dari 57.000 orang di Miyagi dan hampir lebih dari 3.000orang di Iwate.
Hal ini mungkin karena terjadinya ada penundaan operasi pencarian di daerah tersebut yang berada pada radius 20kilometer dari Pembangkit Listrik Tenaga Listrik yang rusak pada wilayah Fukushima Daiichi.
"Tampaknya hampir dipastikan naik jumlahnya karena tidak adanya anggota keluarga melaporkan orang meninggal dan hilang. Di beberapa wilayah, seluruh keluarga tampaknya telah meninggal didalam gempa 9,0SR, yang diikuti adanya tsunami.
Menurut angka NHK tersebut, di tempat penampungan yang ada, tercatat lebih dari angka 200ribu orang, dan sebagian besar lagi tersebar di prefektur Miyagi, Fukushima, dan Iwate.
Lebih dari angka 30ribu orang, terutama dari wilayah Fukushima, telah meninggalkan kawasan kampung halaman mereka sendiri. Sejumlah keluarga lain dikabarkan telah kembali pulang ke rumah mereka masing-masing.
Badan Kepolisian Nasional menyampaikan bahwa setidaknya 18ribu rumah telah hancur oleh adanya gempa dan tsunami, dan lebih dari angka 130ribu rumah rusak.
Penulis: Srihandriatmo Malau | Editor: Ade Mayasanto (Tribunnews.com)